Selasa, 26 Agustus 2008

Transgender? bukan barang baru kok!

Kata “transgender” lagi ngetrend saat ini (setidaknya pernah ngetrend sebelum ini). Seseorang yang secara biologis mempunyai 2 kelamin. Itu kurang lebih maknanya (kalau salah tolong dikoreksi). Bisa gak sih? Bisa aja! Allah Maha Kuasa kok! Dan ternyata kejadian ini bukan barang baru. Sejarah pernah mencatat adanya seorang perempuan yang akhirnya menjadi seorang laki-laki secara alami. Bagaimana bisa? Baca yang satu ini!

Ibnu Katsir, adalah nama yang tidak asing lagi bagi umat Islam terutama bagi mereka yang mempelajari tafsir Al Qur’an. Beliau mempunyai sebuah kitab tafsir yang berjudul Tafsir Al Qur’anul Adzhim, yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir. Selain sebagai seorang ahli tafsir, beliau ternyata adalah seorang sejarawan terkemuka umat Islam. Beliau mempunyai kitab Al Bidayah dan An Nihayah yang berisikan sejarah dari awal penciptaan dunia hingga hari akhir nanti. Di dalam kitab ini beliau menyebutkan banyak kejadian penting yang terjadi di muka bumi. Begitu juga beliau menceritakan kejadian-kejadian aneh (setidaknya menurut mereka ketika itu) yang pernah terjadi. Salah satu kejadian aneh tapi nyata yang beliau tulis adalah kisah seorang perempuan yang setelah dewasa berubah menjadi laki-laki. Beliau bertemu langsung dengan orang tersebut dan mewewancarainya. Kita biarkan Ibnu Katsir rahimahullah, menceritakan pertemuannya dengan orang ini pada tahun 754 H (kira-kira 1400-an masehi) :

“Ketika aku pergi untuk mengucapkan selamat kepada Nashirudaulah bin Aqwas ketika diangkat menjadi wakil Ba’labak, aku dapatkan di sana seorang pemuda. Kemudian orang-orang yang hadir memberitahukanku bahwasanya pemuda ini dahulunya adalah seorang perempuan yang kemudian muncul dzakar padanya. Kejadian ini sangat masyhur di negeri Thoroblus dan menyebar di kalangan manusia di Damaskus dan selainnya. Menjadi pembicaraan manusia. Ketika aku melihatnya -memakai pakaian Turki_, aku panggil dia dan aku wewancarai dia dengan dihadiri oleh orang-orang yang hadir.

Aku bertanya: “Bagaimana kisahmu?”

Maka dia tersipu-sipu malu seperti halnya perempuan.

Dia berkata, “Aku dahulu adalah seorang perempuan selama lima belas tahun. Aku pernah dinikahkan dengan tiga orang, dan mereka tidak “kuasa” atasku. Mereka semua menceraikanku. Kemudian terjadi hal yang aneh pada diriku. Payudaraku mengecil dan menyusut. Rasa kantuk menyerangku siang dan malam. Kemudian keluar dari bagian vital, “sesuatu” sedikit demi sedikit dan bertambah hingga kelihatan menonjol seperti dzakar dan testis.”

Aku bertanya, “Besar atau kecil?”

Dia merasa malu, kemudian dia menyebutkan ukurannya kecil sekitar satu jari.

Aku bertanya, “Apakah engkau mengalami ihtilam (mimpi basah)?”

Dia menjawab, “Aku mengalaminya dua kali semenjak kejadian tersebut.”

Kejadian itu sudah berlangsung sekitar enam bulan yang lalu sampai dia mengkhabariku. Dia menyebutkan bahwasanya dia mahir melakukan perkejaan wanita seperti memintal, membordir, menghias, dan lainnya.

Aku bertanya, “Siapa namamu ketika engkau bersifat wanita?”

Dia menjawab, “Nafisah”

“Dan sekarang?”

“Abdullah”

Dia menyebutkan ketika terjadi hal tersebut, ia sembunyikan dari keluarganya bahkan dari bapaknya. Kemudian keluarganya berniat untuk menikahkannya dengan pria keempat. Maka dia berkata kepada ibunya, “Sesungguhnya telah terjadi demikian dan demikian.”

Ketika keluarganya sudah mengetahui hal tersebut mereka mengkhabarkan kepada wakil sultan di sana. Maka dia membuat laporannya dan kasusnyapun ramai. Kemudian dia datang ke hadapan wakil sultan di Damaskus. Dia bertanya tentang perkaranya, maka diapun mengkhabarkannya sebagaimana dia mengkhabarkannya kepadaku. Kemudian dia ditarik oleh protokoler kesultanan Kahlan bin Aqwas dan mengenakan padanya pakaian tentara. Dia seorang pemuda elok yang wajahnya, sifatnya, cara berjalannya, dan cara berbicaranya keperempuanan.

Sungguh Maha Suci Dzat yang melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Perkara ini tidak terjadi di alam ini kecuali jarang sekali. Dan menurutku, dulu dzakarnya tertutup bibir kemaluannya kemudian akhirnya terbuka. Kemudian ketika dia sudah memasuki usia baligh muncul sedikit demi sedikit. Sampai kemudian ketika muncul dengan sempurna, jelaslah bahwa dia sebenarnya dari dulu adalah seorang pria. Dia mengatakan kepadaku bahwasanya dzakarnya muncul dalam keadaan terkhitan. Yang demikian dinamakan khitanulqomar (disunat bulan ?) dan kalau yang ini sering terjadi. Wallahu a’lam.”

(Al Bidayah An Nihayah 14/285-286)

Minggu, 17 Agustus 2008

Education In Indonesia

Membicarakan hal yang satu ini mungkin tidak akan habis-habisnya. Ya, dengan keadaan yang ada sekarang ini, ditandai dengan demo di sejumlah tempat yang pada dasarnya menuntut pendidikan murah. Tapi saya tidak ingin menulis tentang demo tersebut. Saya hanya ingin menceritakan beberapa keluhan handai taulan (bahkan sampai berdebat kusir hehehe) tentang pendidikan ini.

Salah satu teman saya, agak berang, bilang “Masak sudah sudah ada BOS, kita masih harus bayar Rp. 15.000 per bulan? Di SD lainnya kok enggak bayar lagi.”. Kebetulan memang anaknya berada di SD Negeri 2, dimana ada 3 SDN dalam satu lingkungan sekolah.

Saya coba jadi counter-nya, “Mungkin di SDnya banyak ekstra kurikuler. Sudah cek atau belum? Ada komputer atau enggak?”.

Dia langsung menyanggah, “Ah enggak ada kayak gituan. sama aja!”

Akhirnya lama berdebat, bahkan ditambah satu orang lagi. Cuma jadi kemana-mana buntutnya. Menuduh KepSek korupsi, Guru korupsi, Masya Allah. Setelah lama berdebat, disimpulkan bahwa sebagian dana anggaran orang tua tadi digunakan untuk perbaikan WC, prasarana gedung, tiang bendera, biaya mencat pagar dan lain-lain.

Akhirnya, saya merasa menyadari ada ketidak-adilan disini. Kalau sudah tidak adil, pasti melanggar Pancasila, “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”. Kita bisa bandingkan SD Negeri di tengah kota dengan SD Negeri di kampung. Terasa sekali ketimpangan sosial antara kedua SD tersebut. Berita hari ini, ada satu SDN yang roboh.

Menurut ‘mata-adil’ saya, seharusnyalah setiap Sekolah Negeri di negeri ini mempunyai prasarana yang sama, baik dipedalaman Papua sana, atau yang berada di pusat kota Jakarta. Tidak boleh dibedakan. Karena ini Sekolah Negeri (atau Sekolah miliknya negara), maka tidak boleh juga menerima sumbangan dari pihak lain. Mutlak harus dibiayai negara.

Perbedaan Uang Pangkal juga menjadi pertanyaan. Kok, sama sama sekolah negeri uang pangkal berbeda? Tiap sekolah pasti punya jawaban (atau alasan) mengapa mereka menarik uang pangkal sedemikian besar. Uang sejenis inipun harus ditiadakan untuk sekolah Negeri. Alasannya sama dengan di atas, tidak boleh ada perbedaan antar sekolah negeri.

Tentu lain halnya dengan sekolah swasta, yang sah-sah saja menerima sumbangan dari pihak manapun.
Saya tidak tahu keadaan makro dari Anggaran Belanja Negara untuk pendidikan yang konon terlalu kecil. Saya juga tidak mengetahui kondisi dana subsidi Minyak (yang jadi BOS).

“Kaca mata” saya mungkin perlu diperbaiki, untuk menentukan apakah cukup adil kondisi di atas. Apakah benar pendapat saya, bahwa setiap Sekolah Negeri harus memiliki prasarana yang sama? Saya sendiri masih belum yakin. :)

Apalagi setelah baca blognya Harry Sekolah Swadaya - diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis. Kok saya jadi merasa bahwa Negara tidak mampu memberikan pendidikan kepada warganya, seperti yang tercantum dalam UUD 45.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia !!

Kamis, 07 Agustus 2008

About ours school,,

Tahun ini ada yg aneh dngan skolah zaman ini,,
mungkin ini bisa terjadi d tahun" kmarin,

salah satunya tntang peraturan pemerintah yg tdak mengijinkan skolah menjual buku,,,
pasti sebagian dari anad sudah mendengarnya bukan??
saya merasa sedikit bingung tentang hal ini,,
dikarenakan banyak sekolah bisa dikatakan melanggar hal ini,,
jujur,kami terbantu dg adanya toko tsb,,,
akan tetapi bgaimna dg peraturan pemerintah tsb??
lalu tentang buku di "toko" itu,harganya berbeda dg buku' di pasaran lainnya,,,
yang saya tau,apabila kita membeli buku dalam jumlah banyak dan buku itu terbit di tahun" yang lalu,harganya akan mendapatkan diskon yang tidak sedikit,,
dimungkinkan adanya "you know that" disana,,
tapi saya juga tidak tau apa yang sbenarny terjadi disana,,

oh iya ada satu lagi,,
lalu tentang guru yg membuka les,,,
itu sgt baik bagi siswa menurut saya,
akan tetapi,,,
itu akan terasa kurang adil bagi siswa" yang kurang mampu,,
selain biayanya yang tidak murah,,
banyak orang" mengambil kesempatan ini tanpa melakukan usaha apapun,untuk memperoleh hal "yang lebih",,

kalw begini caranya,,
yg kaya tambah pinter
yg biasa tambah yaaa biasa aja
yg kurang malah terpuruk,,,

kami tau,,
byk guru melakukan hal ini u/ menambah penghasilan mereka,,
akan tetapi apakah hal ini lazim u/ kita??

saya sedikit kecewa atas hal ini,,,
crying

sy hanya minta pendapat para pembaca sekalian,trimakasih,

My First Blog

uh uh,,,
gtw mw ngomong apaan,,,
ni blog pertama yg sya bkin,

jdi,buat para blogger,,
salam knal aja,,
^ ^